08 September, 2008

Mengapa Guru Harus Menulis

oleh : asul wiyanto

Penyair kondang Taufiq Ismail pernah menyindir, “Bangsa kita rabun membaca dan pincang menulis.” Benarkah demikian? Benar. Baca tulis belum menjadi budaya kita. Masyarakat kita masih menganut budaya lisan. Buktinya, televisi lebih menarik perhatian masyarakat daripada bacaan. Banyak orang betah duduk berjam-jam di depan televisi. Di tempat-tempat umum, lebih banyak orang mengobrol daripada membaca. Coba, kita perhatikan orang-orang di sekitar kita, banyakkah orang yang gemar menulis? Lebih khusus lagi, banyakkah guru yang menulis? Tidak.

Mengapa kebanyakan guru tidak menulis? Jawaban yang hampir selalu muncul adalah, “Tidak ada waktu.” Jawaban itu meragukan. Bukankah setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari? Setiap orang juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Jika punya niat, kita tentu bisa menyisihkan satu atau dua jam sehari untuk menulis. 

Mengapa guru harus menulis? Kegiatan menulis termasuk salah satu upaya meningkatkan kualitas diri. Sebab, seorang penulis harus banyak membaca. Penulis yang tidak banyak membaca tentu kesulitan mengemukakan gagasannya secara tertulis. Bacaan bagi seorang penulis ibarat makanan bergizi bagi seorang atlet. Seorang atlet yang tidak makan makanan bergizi, tentu tak punya kekuatan untuk bertanding. Dia akan segera tampak loyo tak bertenaga. Demikian pula, seorang penulis yang tidak membaca, dia akan kehabisan bahan untuk menulis. Selain membaca, 

penulis harus banyak mengamati dan berpikir. Dari membaca, mengamati, dan berpikir itulah, penulis semakin pintar, semakin cerdas, dan semakin bijaksana. Semakin banyak tulisan yang dihasilkannya, semakin meningkat pula kualitas dirinya.
Selain itu, menulis juga dianggap sebagai kegiatan mengajar. Bahkan, dalam hal ruang dan waktu, menulis lebih baik daripada tatap muka di kelas. Jika mengajar di kelas, yang mendengarkan penjelasan guru hanya siswa satu kelas. Tetapi, jika penjelasan itu ditulis, ratusan atau ribuan siswa dapat membacanya. Bukan hanya di Semarang atau Yogyakarta, melainkan juga di Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya, dan lain-lain. Bukan hanya sekarang, tetapi juga besok, tahun depan, atau beberapa tahun yang akan datang. Tulisan memang dapat menembus ruang dan waktu. Tulisan dapat dibaca siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Karena itu, tidak berlebihan jika ada orang mengatakan, “Penulis adalah guru bangsa yang abadi.”

Kegiatan tulis-menulis lebih penting lagi bila dikaitkan dengan dunia pendidikan. Agaknya di dunia ini tidak ada sekolah yang dikembangkan tanpa buku. Mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai perguruan tinggi, semuanya memerlukan buku sebagai sarana belajar. Nah, seandainya mulai sekarang tidak ada lagi yang menulis, apa yang akan terjadi? Dapat dipastikan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah akan terhambat. Bahkan lambat laun kegiatan belajar mengajar itu akan terhenti karena tidak ada lagi buku (ajar). Kalau hal itu terjadi, lambat laun generasi mendatang akan kembali ke zaman prasejarah.
Oleh karena itu, sebaiknya guru berusaha mencintai kegiatan menulis. Apa yang ditulis? Ya, apa saja. Semuanya dapat ditulis! Kapan mulainya? Sekarang. Waktu yang paling tepat untuk menulis ... memang ... sekarang!

Tidak ada komentar: