20 September, 2008

Humor Bumbu Mengajar

oleh : asul wiyanto

Kebanyakan orang menganggap humor sebagai masalah sepele. Humor hanya kelakar yang kurang bermanfaat. Humor hanya canda untuk mengisi waktu luang. Humor hanya sarana tertawa bagi orang yang tak punya pekerjaan. Pendek kata, humor hanya main-main yang jauh dari kesan serius.
Padahal, sebenarnya tidak demikian. Humor sebenarnya masalah serius. Untuk menghasilkannya, perlu modal kreativitas dan proses berpikir. Bahkan, proses berpikir dalam humor bersifat khas yang kadang-kadang justru menjungkirbalikkan logika. Itulah sebabnya Edward de Bono, pakar pengajaran berpikir, mengatakan bahwa untuk dapat berpikir lateral seseorang memerlukan sepenggal humor. Berpikir lateral dalam istilah lain dapat dikatakan sebagai berpikir menyimpang, berpikir melawan arus, atau berpikir bukan pada tempatnya. Berpikir yang demikian tentu lebih berat daripada berpikir yang wajar. Nah, jika humor digunakan sebagai sarana berlatih untuk berpikir berat, pastilah humor mengandung proses berpikir yang cukup rumit. Kenyataannya memang demikian. Coba, perhatikan contoh humor berikut.
Sukron sering bikin ulah di kelas. Meskipun masih kelas I SMP, dia sudah berani mencolak-colek teman perempuannya. Yang dicolek tentu saja merengut dan sewot. Anehnya, jika ditegur Pak Guru, Sukron selalu berkilah, “Bukan saya!” Senjata ”bukan saya” itu selalu digunakan Sukron untuk menutupi kenakalannya. Tentu saja, Pak Guru makin lama makin jengkel. Dan ini puncak kejengkelannya. Dalam pembelajaran sejarah Sukron diuji dengan pertanyaan, “Siapa pendiri Majapahit?” Dengan tangkas Sukron menjawab, “Bukan saya!”
Pak Guru tersinggung lalu memelototi Sukron. Tapi, Sukron tetap menjawab, “Bukan saya, bukan saya...! Memang bukan saya!” Pak Guru lalu menyerahkan Sukron kepada Pak Kardi, orangtua Sukron yang bekerja sebagai kuli bangunan. Pak Kardi membentak-bentak Sukron agar mengaku. Meskipun beberapa tamparan untuk memaksa mengenai pipinya, Sukron tetap menjawab, “Bukan saya!” berulang-ulang. Merasa yakin bahwa Sukron tak akan mengubah jawabannya, Pak Kardi menemui Pak Guru. Katanya, “Anak saya tidak salah, Pak Guru, yang mendirikan Majapahit memang bukan anak saya.” Dengan bersungut-sungut, Pak Guru bertanya, “Mengapa tidak Bapak beri tahu pendiri yang sebenarnya?” Dengan tenang Pak Kardi menjawab, “Gurunya... bukan saya.”
Humor banyak manfaatnya. Humor mendatangkan keceriaan dalam kehidupan, mampu meredakan konflik dan dapat membuat orang lebih bersahabat. Humor juga dapat menjadi air yang memadamkan kobaran amarah, melancarkan komunikasi, dan menebarkan kebahagiaan. Bahkan, humor dapat mengasah kreativitas dan kemampuan berpikir.
Menyadari keampuhan humor seperti itu, humor dapat didayagunakan di kelas. Dalam kegiatan belajar mengajar, humor merupakan “bumbu masak” yang meningkatkan “nafsu makan” para siswa. Buktinya, siswa menyukai guru yang mampu berhumor di dalam kelas. Kata mereka, ”Tidak mengantuk, suasana menjadi segar, tidak tegang, suasana belajar menyenangkan, meningkatkan keakraban, dan menyukai mata pelajaran yang diampu oleh guru humoris.”
Akan tetapi, guru tidak boleh sembarangan melemparkan humor di dalam kelas. Humor di kelas lain sekali dengan humornya pelawak di pangung. Humor di kelas harus menyatu dengan kegiatan belajar yang berlangsung. Lebih baik lagi jika guru dapat menyampaikan humor secara tersamar sehingga siswa tidak tahu jika guru sebenarnya melepas humor. Tahu-tahu para siswa tergelitik dan tertawa.
Selain itu, guru perlu menyadari bahwa humor yang ditebarkan di kelas belum tentu menimbulkan tawa. Sebab, tidak semua humor lucu. Kenyataan membuktikan bahwa humor bisa sama sekali tidak lucu (jika tidak dimengerti maknanya), humor bisa membosankan (jika diulang-ulang), humor dapat menjengkelkan (jika menyingung perasaan), humor dapat membangkitkan amarah (jika bernada mengejek), bahkan humor dapat menyulut dendam (jika bermaksud melecehkan).
Oleh karena itu, humor yang ditebar di dalam kelas harus dipertimbangkan. Humor dianggap baik dan mempunyai daya dukung pembelajaran jika tepat bahan, tepat sasaran, tepat waktu, tepat situasi, dan tepat cara menyampaikannya. Ibarat bumbu masak yang melezatkan masakan, humor juga harus tepat takarannya. Jangan sampai humor itu terlalu banyak karena dapat mengurangi efektivitas kegiatan belajar mengajar.
Silakan mencoba!

Tidak ada komentar: