24 September, 2008

Mutu Pendidikan dan Kualitas Guru

oleh : asul wiyanto

Aneh tetapi nyata. Itulah ungkapan yang sering muncul jika kita berbicara tentang pendidikan. Sejak dulu pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan upaya itu, pemerintah yakin bahwa mutu pendidikan meningkat tahap demi tahap. Akan tetapi, banyak orang mengatakan bahwa mutu pendidikan kita menurun. Mana yang betul, meningkat atau menurun? Jawabnya, semuanya betul. Lo, kok bisa begitu?

Menurut pakar pendidikan tersohor, J. Drost, kata pendidikan mencakupi dua hal, yaitu pendidikan dan pengajaran. Kegiatan di Sekolah Taman Kanak-kanak, semuanya pendidikan. Pengajaran baru diberikan di Sekolah Dasar, yaitu anak-anak diajari membaca dan berhitung. Makin tinggi kelasnya, makin banyak pengajaran yang diberikan. Di SMP, pengajaran diberikan lebih banyak lagi dan pendidikan secara bertahap dikurangi, diserahkan kepada orangtua. Di SMA kadar pengajaran mendekati seratus persen. Hal itu berarti bahwa pendidikan siswa SMA hampir seluruhnya menjadi kewajiban dan tanggung jawab orangtua siswa.

Jika kita setuju dengan J.Drost, maka kewajiban dan tanggung jawab orangtua mendidik anak (siswa) lebih besar daripada sekolah. Orangtua harus berupaya agar anak memiliki nilai-nilai moral yang baik seperti jujur, disiplin, kerja keras, menghormati orang tua, tertib di sekolah, tertib di jalan, tertib di rumah, sopan dalam pergaulan, dan lain-lain. Jika sekarang siswa yang “menyimpang” dari nilai-nilai itu lebih banyak daripada dulu, berarti mutu pendidikan menurun.

Pendidikan dalam arti pengajaran tentu saja mutunya meningkat jika dibandingkan dengan yang dulu. Mengapa? Sekarang guru semakin berpengalaman. Sarana pembelajaran, termasuk buku ajar semakin lengkap. Kegiatan belajar mengajar semakin menyenangkan. Dukungan orangtua siswa semakin nyata. Gizi makanan siswa semakin meningkat. Oleh karena itu, secara umum tentu dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan kita meningkat dibandingkan zaman dulu.

Akan tetapi, jika dibandingkan dengan negara lain, mutu pendidikan kita menurun peringkatnya. Pada tahun 70-an Malaysia belajar kepada kita. Banyak mahasiswa asal Malaysia berkuliah di negara kita. Selain itu, guru-guru kita yang baik “dipinjam” untuk mengajar di Malaysia. Hal itu sebagai bukti, orang Malaysia menganggap bahwa mutu pendidikan kita lumayan baik. Tetapi, sekarang kita sudah jauh ketinggalan dari Malaysia. Pendidikan di Malaysia sekarang menempati peringkat ke-36 dan kita berada di peringkat ke-118 dari 182 negara. Perkembangan pendidikan di negara kita amat lambat sehingga kita jauh tertinggal dengan negara lain.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah meningkatkan kualitas guru. Guru harus menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya dengan cara membaca dan menulis.
Upaya menyerap ilmu lewat membaca jauh lebih baik daripada dengan mendengarkan. Seorang pakar mengatakan bahwa syaraf yang dari mata ke otak jauh lebih tebal daripada yang dari telinga ke otak. Karena itu, sangat masuk akal kalau apa yang dibaca jauh lebih mengesankan daripada apa yang didengar. Pakar lain mengatakan bahwa orang-orang normal (biasa) bahkan menerima sesuatu tiga puluh lima kali melalui mata daripada melalui telinga. Peribahasa Jepang pun mengatakan "Satu kali melihat lebih jelas daripada mendengarnya seratus kali." Peribahasa Cina mirip dengan itu, bunyinya, "Sebuah gambar (yang dilihat) lebih jelas daripada seribu kata (yang didengarkan)." Itulah sebabnya banyak orang belum percaya kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri meskipun sudah diberitahu berulang-ulang. Mereka baru percaya jika sudah melihat sendiri atau membaca sendiri.

Selain membaca, guru harus giat menulis. Sebab, guru yang menulis tentu banyak membaca, banyak mengamati, dan banyak berpikir. Semakin banyak tulisan yang dihasilkannya, guru tentu semakin pintar, semakin cerdas, semakin bijaksana, dan tentu saja semakin meningkat kualitas dirinya. Meningkatnya kualitas guru, tentu amat berpengaruh terhadap meningkatnya mutu pendidikan. Semoga demikian.

Tidak ada komentar: